; Catatan Kita: Bahaya Perilaku Bullying Terhadap Psikologis Anak

Friday, April 12, 2019

Bahaya Perilaku Bullying Terhadap Psikologis Anak

Bahaya perilaku bullying tehadap psikologis anak - Akhir akhir ini pemberitaan media media nasional dihebohkan oleh sebuah kasus bullying yang mana terduga pelaku dan korban masih sama sama dibawah umur. Disini kita tidak akan bahas mengenai kasus tersebut, lebih arif dan bijak bila kita serahkan saja kasusnya kepada pihak yang berwenang.  Catatan kita akan memberikan sedikit info mengenai apa itu bullying, kenapa bisa terjadi dan apa dampaknya terhadap korban.

Ilustrasi perilaku penindasan (foto dari whyy.org)

Perilaku bullying bisa disebut juga penindasan, intimidasi, periksaan yakni suatu penggunaan kekerasaan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Perilaku ini bisa menjadi kebiasaan jika terus menerus dilakukan oleh orang yang sebelumnya telah atau pernah melakukan bullying. Hal ini dapat mencakup perilaku pelecehan, ancaman lisan, kekerasan fisik terhadap orang lain dengan lebih menekankan paksaan dan intimidasi. Tindakan penindasan sendiri bisa digolongkan dalam empat jenis yakni secara emosional, fisik, lisan maupun cyber (dunia maya). Budaya penidasan atau bullying ini dapat terjadi dilingkungan mana saja yakni sekokah, lingkungan tempat tinggal, lingkungan kerja maupun rumah tangga. (Referensi wikipedia).

Banyak kasus penindasan atau bullying terjadu di Indonesia, bahkan di dunia pun kasus bullying ini banyak menyita perhatian publik. Beberapa kasus bahkan ada yang sampai berujung kematian baik itu akibat dilakukannya bullying secara langsung maupun secara tidak langsung. Secara tidak langsung mungkin bisa terjadi terhadap korban yang sudah depresi dan tidak kuat atas perlakuan tersebut. Tidak sedikit korban bisa sampai nekat melakukan bunuh diri karena depresi.

Berdasarkan data kasus yang sudah terjadi, kasus bullying sendiri lebih banyak terjadi di lingkungan sekolah atau kampus. Biasanya beberapa kasus terjadi antara senior dan junior disebuah sekolah atau kampus. Motifnya pun beragam, mulai dari ego, merasa senior dan ingin dihargai junior bahkan sampai gara gara percintaan pun pernah terjadi. Banyak korban perlakuan bullying yang mengalami stress dan depresi sehingga sangat mengganggu psikologis korban dan akan sangat berdampak negatif bila tidak ditangani secara serius.

Korban bullying selalu merasa lemah (foto dari probonoaustralia.com)

Menurut penelitian dari beberapa kalangan dan psikolog bahaya perilaku bullying terhadap psikologis anak sangat berbahaya dan menimbulkan efek negatif berkepanjangan. Selain menyebabkan depresi dan stress, dalam jangka panjang pun bisa mempengaruhi perilaku, sifat dan pikiran dari korban itu sendiri. Bahkan tak sedikit pelaku yang melakukan penindasaan atau bullying dulunya juga merupakan korban perilaku penindasan juga. Hal ini didasari rasa kecewa, marah, dan emosi yang terpendam dari diri korban namun tidak bisa disalurkan dengan baik. Pikiran korban yang demikian adalah akibat dari perilaku bullying yang di alaminya di masa lalu, sehingga psikologis korban akan terus memendam rasa dendam yang amat hebat. Dan ujungnya adalah melampiaskan dendam tersebut kepada orang lain yang lebih lemah daripada dirinya sendiri.

Pendekatan secara psikologis terhadap korban bullying sangat penting dilakukan karena untuk mencegah hal hal yang tidak diinginkan dimasa mendatang. Perlu peran ekstra dari orangtua, saudara maupun kerabat dalam mendampingi anak yang pernah menjadi korban bullying. Selain menimbulkan efek negatif terhadap psikologis korban, kebiasaan bullying juga bisa menimbulkan efek negatif terhadap psikologis pelaku. Dampaknya bahkan lebih berbahaya jika tidak ditangani secara serius dan harus ditangani sedini mungkin. Mungkin untuk sebagian pelaku yang pernah melakukan perilaku kekerasaan atau bullying, mereka akan sangat bangga dan merasa puas karena telah bisa menyalurkan hasrat emosional negatif mereka kepada orang lain. Jika dibiarkan dan dianggap biasa, tidak menutup kemungkinan pelaku akan lebih dekat menjadi orang yang biasa disebut psyco.

Perhatian dan perlindungan orangtua sangat penting (foto dari bidanku.com)

Peran orangtua dan lingkungan lah yang harus lebih ekstra memberikan arahan dan didikan yang tepat kepada anak. Menghindari terjadinya kasus serupa yang memang sudah berulang ulang kali terjadi di Indonesia. Jika sudah terjadi dan menjadi korban maka perlu dekapan lebih ekstra lagi dengan memberikan perhatian khusus dan perlindungan yang dirasa aman dan nyaman bagi si anak. Terlepas memang perilaku bullying sudah ada sejak lama dan terus menerus berkesinambungan terjadi lagi dari masa ke masa. Apalagi pada umumnya yang menjadi korban dan pelaku kebanyakan pelajar atau masih di bawah umur. Sehingga penyelsaian kasusnya bisa lebih rumit karen adanya Undang Undang Perlindungan Anak.

Semoga kedepannya tidak akan terulang lagi kasus kasus bullying seperti yang menimpa saudari A dari Kalimantan baru baru ini ramai dan viral diperbincangkan. Apalagi di zaman serba modern dan canggih seperti sekarang, apapun yang dianggap bisa menjadi bahan berita viral akan sangat mudah tersebar kesemua orang di seluruh Indonesia. Tentunya ini akan menimbulkan efek negatif terhadap psikologis korban ataupun pelaku nya sendiri. 



No comments:

Post a Comment